BERITA

Article Cover

15 Oktober 2022

Tips Menjadi Komunikator Handal Bagi Para Introvert

Komunikasi Tidak Hanya Soal Bicara Apakah seseorang bisa dikatakan sebagai komunikator handal kalau dia sudah menjadi seorang public speaker? Jawabannya: tidak. Semua orang bisa jadi komunikator handal, bahkan dalam kehidupan sehari-hari, tidak melulu soal tampil di depan umum.   Realitanya, banyak orang – terutama yang merasa introvert dan rendah diri – merasa bahwa untuk menjadi komunikator yang baik, harus mampu berbicara dengan baik di depan umum, melakukan pidato yang memukau atau presentasi yang ciamik! Sehingga, semua orang kemudian berlomba-lomba untuk bisa bicara. Jika semua orang bicara, lantas siapa yang mendengarkan?   Perlu diingat, lho, bahwa sebenarnya keterampilan komunikasi itu tidak hanya dilihat dari keterampilan bicaranya saja. Untuk jadi seorang komunikator handal, ada keterampilan komunikasi lain yang harus kamu terapkan. Nah, berikut ini ada beberapa tips yang bisa kamu terapkan untuk menjadi seorang komunikator handal dalam kehidupan sehari-hari.  

  1. Saat kamu berbicara, sampaikan pesanmu dengan singkat, padat, dan jelas. Introvert biasanya cenderung irit bicara, malah bagus kan?
  2. Introvert biasanya tidak mudah memotong pembicaraan dan sabar mendengarkan. Asah terus skill ini, sehingga orang lebih nyaman berada di dekatmu, karena selalu didengarkan.
  3. Gunakan bahasa tubuh yang mendukung dengan apa yang kamu sampaikan ketika kamu berbicara. Usahakan untuk menggunakan bahasa tubuh yang terkesan positif.
  4. Saat kamu menulis, pastikan tulisanmu tidak ambigu ataupun menyakiti pihak lain.
  Tujuan komunikasi yang baik adalah untuk membangun trust dan menjaga relasi dengan orang lain. Komunikasi yang baik harus dilandasi dengan tujuan dan cara penyampaian yang baik.

Lihat Detail
Article Cover

08 Oktober 2022

Inovasi Traksi untuk Memastikan UMKM Berdikari

Istilah traksi masih dirasa awam khususnya untuk usaha pada level mikro, kecil, dan menengah. Kosakata traksi biasa dipergunakan oleh startup digital untuk menunjukkan kemampuan monetisasi layanan dari para penggunanya. Semakin besar traksi yang dimiliki, maka semakin terjamin keberlangsungan usaha dari startup tersebut.

 

Pembicaraan traksi ini relevan karena sejak awal 2022 lebih dari 50 startup digital di dunia telah merumahkan ribuan karyawannya. Hal ini terjadi semata karena para startup tidak mampu melakukan monetisasi dengan optimal sehingga hanya berharap dari pendanaan bertahap saja dari para investor.

 

Bagi UMKM, krisis traksi ini tidak boleh terjadi. UMKM yang memiliki pasar lebih tradisional dibandingkan startup digital harus mampu untuk membangun pondasi-pondasi sumber pendapatan yang lebih kokoh dan tidak hanya tergantung pada jalur pembeli tunggal saja. Oleh karena itu, UMKM memerlukan inovasi traksi agar memastikan pundi terpenuhi dan usahanya mampu berdikari.

 

Inovasi traksi dapat dilakukan dengan pengembangan produk yang rutin, peningkatan kualitas layanan, perluasan layanan kepada multi segmen, pembangunan layanan pelanggan, pembuatan strategi terstruktur, hingga digitalisasi akses penjualan. Selain itu, UMKM perlu menghindari zona nyaman agar dapat lekas bereaksi jika ada fluktuasi pada laporan keuangan. Jadi, inovasi traksi bukan hanya sekadar inovasi produk, melainkan upaya kreatif untuk memastikan pundi pendapatan tidak berasal dari satu aliran saja.

Lihat Detail
Article Cover

01 Oktober 2022

WIRAUSAHAWAN GEN-Z

Target ekonomi Indonesia di 2030 adalah Indonesia emas dimana Indonesia diramalkan akan mencapai tingkat perekonomian terbesar ke-7 dan bahkan bisa mencapai peringkat ke-5 di dunia. Tentunya dalam pencapaian target tersebut dibutuhkan langkah-langkah dan strategi yang tepat utamanya dalam menyiapkan sumber daya manusia yang handal dan dapat bersaing. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2020, mencatat jumlah penduduk Indonesia didominasi oleh Generasi Z yaitu mereka yang lahir mulai 1997 hingga 2012. Jumlahnya mencapai 75,49 juta jiwa atau 27,94% dari total penduduk Indonesia.

Besarnya jumlah Gen-Z tersebut harus dibekali dengan keterampilan dan keahlian dalam berwirausaha untuk memasuki pasar persaingan global. Hadirnya Revolusi Industri 4.0 menuntut para pelaku usaha, utamanya dari Gen-Z, untuk mengubah cara berwirausaha yang lebih kreatif dan inovatif yang didukung dengan perkembangan teknologi agar dapat mempercepat transformasi wirausaha produktif berbasis teknologi dan inovasi. Karena Gen-Z merupakan kelompok masyarakat yang lahir dan tumbuh bersama dengan perkembangan teknologi, maka dapat terhubung secara global dan berjejaring lebih luas sehingga memudahkan untuk menjadi wirausahawan.  

Pada sisi yang lain, Gen-Z memiliki karakter selalu menginginkan sesuatu secara instan dan tidak peka terhadap lingkungannya. Sedangkan dalam dunia usaha dibutuhkan kesabaran, kerja keras, dan kepekaan terhadap lingkungan karena setiap usaha tentunya tidak terlepas dari resiko kerugian, resiko kebangkrutan, ataupun resiko lainnya. Oleh karena itu, pembinaan dan pendidikan karakter nilai-nilai budaya bangsa harus terus ditumbuhkembangkan dan disosialisasikan kepada para wirausahawan Gen-Z. Hal ini tentunya perlu menjadi perhatian dan bahan kajian bagi semua pihak khususnya bagi para akademisi dalam mendidik dan menciptakan wirausahawan muda khususnya Gen-Z yang dapat bersaing di era Revolusi Industri 4.0 tanpa harus melepaskan nilai-nilai moral dan nilai-nilai budaya bangsa yang mereka miliki. Selain itu, pemerintah dapat memfokuskan perhatiannya secara terus menerus untuk mengembangkan program pendidikan dan pembinaan serta penyertaan modal bagi para wirausahawan Gen-Z agar dapat menjadikan Indonesia emas pada 2030.

 

Muh. Sabir. M, S.E., M.Si.

Dosen Universitas Ichsan Gorontalo

 

Lihat Detail
Article Cover

24 September 2022

Era connecting the world sudah lewat, what next?

Difi Johansyah

 

Bapak Difi Johansyah memulai karir di Bank Indonesia pada 1989 dan posisi yang pernah beliau jabat antara lain Staf Gubernur Bank Indonesia, Peneliti Ekonomi, Peneliti Eksekutif Perbankan, Kepala Bagian Departemen Pengedaran Uang, Kepala Humas Bank Indonesia, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Utara dan Jawa Timur. Setelah pensiun pada 2021, Bapak Difi menjabat sebagai Komisaris Utama Finnet Indonesia.

 

Bisnis Rintisan Berbasis Fintech, Market Place, dan Start-up Desa

 

Menurut beliau era start-up berbasis internet sudah lewat, era connecting the world juga sudah lewat, karena semua sudah melakukan itu dan sudah tersedia dimana-mana. Tantangan sekarang adalah menciptakan konten-konten, artificial intelligent, dan hal-hal baru lainnya. 

 

Desa memiliki peluang yang besar, namun tantangan kewirausahaannya juga lebih banyak dari pada di kota karena sarana desa yang kurang memadai. Disinilah peran pemerintah untuk mendukung desa dengan menyediakan infrastruktur, sarana komunikasi, internet, listrik agar desa siap untuk berbisnis di era sekarang. Desa bisa memulai bisnis dengan berfokus pada swasembada desa atau menggali potensi-potensi lokal desa.

 

Karakteristik desa yang tidak berani mengambil resiko , membutuhkan role model desa lain yang telah berhasil untuk bisa dipelajari dan dijadikan contoh. Oleh karena itu, dibutuhkan kolaborasi antar desa agar bisa saling belajar. Ekosistem desa harus diciptakan dengan menggerakkan seluruh elemen potensial desa, sehingga transaksi ekonomi bisa bertumbuh. Bersinergi dengan desa lain tentu akan menjadi nilai tambah dan ekosistem hulu hilir yang terbentuk dengan hubungan antar desa yang saling mengisi akan memberikan keuntungan bagi masing-masing desa. 

 

Banyak desa dengan potensi SDA yang bagus tetapi tidak memiliki tenaga untuk monetisasi. Yang bisa dilakukan desa adalah memberikan proposal bisnis pada institusi yang berniat membantu sehingga apa yang diberikan sesuai kebutuhan dan efektifitas akan optimal.

 

BUMDesa dan Urbanisasi

 

Pandemi menyebabkan banyak banyak penduduk desa yang bekerja di kota di-PHK dan mereka kembali ke desa. Mereka telah mendapatkan keahlian dan bisa merintis BUMDesa, sehingga dengan pendapatan yang stabil, mereka bisa menetap di desa dan menekan urbanisasi.

 

Nasehat untuk Pelaku Bisnis

 

Amanah, Profesional, Kreatif dalam mencari pasar, dan Standarisasi kualitas. (O2)

 

Lihat Detail
Article Cover

17 September 2022

Wawancara dengan  Dr. Harjum Muharam, S.E., M.E.

Dinamika dan Peran Forum Manajemen Indonesia Koordinator Wilayah Jawa Tengah

Aktifitas FMI Korwil Jawa Tengah mewadahi  anggotanya yang merupakan perguruan tinggi yang memiliki program studi manajemen, baik program studi manajemennya maupun dosen-dosennya. Untuk program studi manajemen, FMI Korwil Jawa Tengah berperan dalam benchmarking, penyusunan kurikulum, dan proses akreditasi. Sedangkan bagi dosen, FMI Korwil Jawa Tengah berperan dalam meningkatkan kualitas diri secara akademik melalui kegiatan ilmiah, penelitian, dan publikasi. Selain itu juga FMI Korwil Jawa Tengah mengadakan workshop-workshop serta sertifikasi profesi bagi dosen.

 

Pendapat Mengenai  BUMDesa

Menurut beliau, mengelola desa berbeda dengan mengelola BUMDesa. Mengelola desa bersifat sosial, sedangkan BUMDesa adalah sebuah perusahaan yang dalam pengelolaannya harus dilakukan secara profesional sehingga menghasilkan keuntungan dan dapat terus berkembang.

BUMDesa harus mampu mengenali dan menggali potensi desa untuk dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan desa, contohnya BUMDesa di Bali yang mengelola Pantai Pandawa. Bagi desa yang tidak memiliki bentang alam untuk dimanfaatkan, bisa menggali potensi lainnya seperti BUMDesa di Cilacap yang menjadi suplier bagi PLTU yang ada di desa tersebut.

Hal-hal yang dibutuhkan BUMDesa adalah penataan organisasi atau manajemen secara profesional dan peningkatan kualitas sumber daya manusianya. Peran akademisi sangat penting untuk mengatasi kendala tersebut untuk dapat mengembangkan BUMDesa. Kunci sukses BUMDesa terletak pada sumber daya manusianya. (RP)

 

Dr. Harjum Muharam, S.E., M.E.

Ketua Forum Manajemen Indonesia Koordinator Wilayah Jawa Tengah

Dosen Departemen Manajemen Universitas Diponegoro

Lihat Detail
Article Cover

03 September 2022

KETAHANAN DESA MELALUI BUMDESA

Badan Usaha Milik Desa (Bumdesa) menjadi topik populer dalam ranah kelembagaan desa sejak diluncurkannya Undang-undang Desa nomor 6 tahun 2014. Sejak saat itu, pemerintah desa beramai-ramai mendirikan Bumdesa untuk menjadi motor ekonomi di pedesaan. Pemerintah desa berharap Bumdesa mampu untuk mengelola potensi aset yang ada di desa, baik bentang alam maupun bentang manusia sehingga dapat menghasilkan sumber pendapatan alternatif untuk kesejahteraan desa.

 

Keberadaan Bumdesa menjadi sumber ekspektasi yang rasional bagi pemerintah desa untuk dapat melayani kesejahteraan masyarakatnya dengan optimal. Hal ini mengingat pemerintah desa memiliki beban yang beragam mulai dari urusan administrasi kependudukan, pertanahan, permasalahan sosial, dan tantangan lainnya. Variasi beban ini membuat desa perlu memiliki strategi agar mampu bertahan dari berbagai dinamika sosial yang terjadi.

 

Kemampuan desa untuk bertahan dari berbagai masalah dinamakan sebagai ketahanan desa atau rural resilience. Ketahanan desa ini dapat menjadi indikator untuk keberlanjutan dari sebuah desa. Oleh karena itu, desa harus memiliki kapasitas yang memadai untuk mewujudkan ketahanan desa. Sebelum adanya Bumdesa, ketahanan desa ini banyak dikontribusikan oleh modal sosial yang ada di desa, kearifan lokal, hingga aktivitas ekonomi yang dirintis oleh para pengusaha desa. Akan tetapi, dengan tantangan yang semakin beragam dan hadirnya dana desa, pemerintah desa membutuhkan strategi yang lebih kreatif untuk mewujudkan ketahanan desa ini.

 

Menurut literatur yang diteliti oleh G.A. Wilson dalam bukunya Community Resilience and Environmental Transitions (2012), ketahanan desa dapat dirintis oleh kekuatan yang ada di komunitas. Kekuatan ini yang kemudian akan membutuhkan suatu trilogi modal yang kokoh untuk merekatkan komunitas di dalamnya yaitu modal sosial, modal lingkungan, dan modal ekonomi. Pada sebuah desa, ketiga modal ini tersedia dengan baik, namun memang tidak seluruhnya berada dalam kondisi yang sempurna menyesuaikan dengan situasi yang ada di desa tersebut.

 

Jika merujuk kepada ketiga irisan modal desa tersebut, maka Bumdesa menjadi alternatif perekat modal yang paling relevan. Bumdesa memiliki peran sebagai penghubung untuk memperkuat ketahanan desa dengan semangat kewirausahaan. Bumdesa dapat memanfaatkan aset yang ada di desa seperti modal manusia ataupun modal alam, kemudian mengubahnya menjadi hal yang menguntungkan melalui modal ekonomi, dan lalu memberi manfaat kepada lingkungan baik alam maupun masyarakatnya.

 

Kehadiran Bumdesa sebagai agen perubahan yang berorientasi kewirausahaan mampu menjadi integrator pemangku kepentingan yang ada di desa, seperti UMKM, organisasi karang taruna, BPD, PKK, dan organisasi lainnya. Peran integrator ini yang kemudian menjadi harapan tertinggi bahwa Bumdesa dapat menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga dan mewujudkan ketahanan desa.

Lihat Detail
Article Cover

27 Agustus 2022

Rempah-rempah Maluku Utara Sampai di Negeri Turki

Rempah-rempah menjadi sektor yang paling penting dan esensial pada kehidupan ekonomi masyarakat Indonesia khususnya Maluku Utara. Rempah-rempah  memiliki nilai niaga yang tinggi dan peranan yang paling signifikan dalam menyumbang devisa negara. Ifamoy merupakan pelopor usaha pengolahan produk buah kenari, pala, dan rempah yang sukses memanfaatkan kekayaan rempah timur Indonesia menjadi aneka macam produk yang dipasarkan di dalam negeri dan luar negeri. Homeindustry ini didirikan pada tahun 2007 berawal dari rasa prihatin Irmawati melihat banyak sumber daya alam berlimpah, tapi produknya minim jadi beliau terpanggil untuk melakukan inofasi produk. Suksesnya sebagai seorang wirausaha tidak terlepas dari binaan bank Indonesia dan pandai membaca peluang komoditas di Maluku Utara khususnya Ternate sebagai daerah penghasil rempa-rempah yang melimpah.

Untuk mengatasi kendala ongkos kirim dan bahan baku “Kami menjalin kerjasama dengan ritel dari luar Maluku Utara seperti Ambon, Sumatera, Jakarta, dan daerah besar lainnya, agar konsumen dapat menjangkau tanpa harus mengeluarkan biaya kirim yang mahal, dan juga menjalin kerjasama dengan petani dan pengepul agar bahan baku selalu tersedia” tuturnya. Banyaknya persaingan  di sektor ini membuat Ifamoy harus ekstra dalam  menyikapi persoalan tersebut, dengan cara berinofasi setiap tahun Ifamoy selalu mengembangkan produl-produk terbaru yang tentunya disesuaikan dengan pasar, serta meminta testimoni dari pelanggan.

Lihat Detail
Article Cover

20 Agustus 2022

Ceritakan Produkmu

Di tengah zaman teknologi, dimana informasi tentang produk dan jasa sudah sedemikian cepat dilihat dan didengar konsumen, dan menjadikan dunia maya penuh sesak, maka pengusaha harus mulai memikirkan cara untuk bisa menembus “kepadatan” itu.

Tantangannya, banyak produk dan jasa sejenis yang rame-rame memasarkan produknya. Media konvensional dan media sosial juga sudah dipadati dengan semua informasi tentang itu. Hal ini seringkali membuat banyak pengusaha bertanya-tanya, mengapa produk yang bagus, dikerjakan dengan hati, dan jelas bisa memenuhi kebutuhan konsumen, ternyata tidak terlalu tinggi direspon. Tidak saja banyak biaya sudah dikeluarkan, namun kreativitas rasanya sudah mandeg, terkuras habis.

Salah satu cara orisinil yang saat ini mulai banyak dipelajari adalah dengan cara “bercerita”. Mengkomunikasikan produk/jasa lewat keterampilan bercerita. Tujuannya agar produk/jasa kita diceritakan ke mana-mana dan mendulang sukses lewat pengalaman para konsumen yang unik dan khas. Ketika generasi milenial sedang meraja di zaman ini, maka pengusaha juga perlu melatih kecakapan komunikasi dalam hal membangun usaha yang unik, khas, dan emosional, sehingga dengan senang hati para milenial akan memviralkannya di akun sosial mereka masing-masing.

Penting untuk segera diidentifikasi keunikan dan kekuatan produk/jasa yang Anda miliki. Lalu mulai membangun cerita nya. Mulai dari sejarahnya, latar belakangnya, motivasinya, hingga kisah dari mereka yang sudah pernah mendapatkan manfaatnya. Tulislah semua itu dengan alur yang bercerita. Dari situ kemudian bisa mulai dibagi-bagi ke dalam medium; konten media sosial, konten newsletter, konten verbal melalui radio misalnya, atau medium konvensional lain seperti brosur atau katalog.

Dengan demikian, diharapkan timbul kreativitas unik untuk bisa dijadikan cerita oleh konsumen, sehingga produk makin dikenal secara lebih orisinil, karena datang dari mereka apa adanya. Contohnya; restoran yang memotong harga menu nya sesuai umur pada KTP, atau produk sepatu yang turut menyumbang ke negara miskin di setiap pembelian sepatunya, atau anak muda yang membangun bisnis sepatunya, fokus untuk futsal saja, dan masih banyak lagi kreativitas lain.

Lihat Detail
« Pertama ‹ Sebelumnya 1 2 3 4 5 10 Berikutnya › Terakhir »